Jumat, 15 Juli 2022

Pembuatan Mading Prasapa (PMR Wira SMAPA) sebagai Sarana untuk Mengkomunikasikan Kegiatan Ekstrakurikuler PMR Wira SMAPA kepada Warga Sekolah


“Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak,

agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan

yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia

maupun sebagai anggota masyarakat”

(Ki Hajar Dewantara)


Latar Belakang

Salah satu ekstrakurikuler yang ada di sekolah yaitu PMR Wira SMAPA atau Prasapa.
Kegiatan PMR Wira ini memiliki banyak aktivitas dalam bidang sosial dan kesehatan 
yang rutin dilakukan. Kegiatan PMR ini selalu mendukung dalam kegiatan sekolah yang lain.
Misalnya, ketika akhir semester ada kegiatan classmeeting lomba antar kelas, maka anggota
PMR akan selalu terlibat dan berjaga menjadi pasukan kesehatan. Keberadaan anggota
PMR ini penting dalam upaya kelancaran kegiatan-kegiatan sekolah.

Namun demikian, jika dibandingkan jumlah anggota PMR SMAPA (kurang dari 50 siswa)
dengan jumlah keseluruhan warga sekolah (lebih dari 1000), maka sebenarnya jumlah
anggota PMR masih terhitung kecil. Karenanya, perlu adanya upaya memperkenalkan
kegiatan PMR ini kepada warga sekolah agar semakin banyak yang tertarik menjadi
anggota PMR dan aktif di dalamnya.   Selain itu, mading ini nantinya bisa menjadi wadah
untuk memamerkan karya dari siswa terkait materi kesehatan. Materi kesehatan ini
biasanya juga diajarkan dalam mata pelajaran Biologi. Karya dari mata pelajaran Biologi
bisa juga ditampilkan melalui Mading Prasapa ini.

Tujuan 
Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan mengkomunikasikan aktivitas
dan materi kegiatan ekstrakurikuler PMR Wira di sekolah secara positif, arif dan bijaksana. 


Peristiwa (Facts) 


Untuk dapat menjalankan aksi ini, saya mengadakan diskusi bersama anak-anak PMR

bagaimana caranya agar mereka dapat  mengkomunikasikan kegiatan mereka di lingkungan 

sekolah. Selain itu saya juga menyampaikan rencana saya ini kepada pihak pemangku

kepentingan, yaitu Waka Kesiswaan tentang pemanfaatan aset sekolah untuk menampung

karya anak PMR dan juga karya siswa secara umum. 


Saat berdiskusi dengan pemangku kepentingan di sekolah



                                    
                  Saat berdiskusi dengan siswa anggota PMR membicarakan rencana kegiatan

Program ini mendorong partisipasi murid yang dapat dirinci sebagai berikut, yaitu mendengar

suara mereka tentang apa yang mau mereka sampaikan dalam Mading.


Mereka juga dapat memilih tentang bagaimana bentuk karya yang akan mereka tampilkan

dalam Mading Prasapa


Ketika mereka telah memilih apa saja yang akan mereka sampaikan di dalam

Mading dan mereka juga memilih bentuk karya yang akan mereka buat, maka mereka akan

terlibat secara aktif dan memiliki proses belajar mereka sendiri.



Proses pembuatan karya yang akan ditampilkan dalam mading

Feeling


Ketika melakukan kegiatan aksi nyata ini, saya merasa sangat tertantang dan bersemangat

untuk memotivasi siswa untuk berkarya sebaik mungkin. Ketika anak-anak kurang

bersemangat, saya merasa harus memberinya support dengan cara memberi

penjelasan akan manfaat dari kegiatan yang mereka lakukan. 


                  


Pembelajaran


Dalam proses pembuatan mading ini, kemudian saya berpikir bahwa mading PMR nantinya

bisa menampung karya anak lebih luas lagi, yaitu misalnya mading dipakai sebagai media

untuk mengkomunikasikan karya anak- anak dalam tugas Biologi yang terkait dengan

materi kesehatan. Dengan demikian untuk ke depannya, anak-anak akan menjadi lebih giat

untuk berkarya agar karyanya nanti bisa tampil di Mading PMR SMAPA dan dapat dilihat

oleh sebagian besar warga sekolah. Dengan demikian kemanfaatan Mading PMR SMAPA

bisa lebih luas lagi. 


Bravo PMR SMAPA (PRASAPA). 


Salam dan Bahagia

Fithriyah,

CGP Angkatan 4 Kabupaten Kediri Jawa Timur





Senin, 13 Juni 2022

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumberdaya

 


Sekolah adalah sebuah ekosistem yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Interaksi antara komponen biotik dan abiotik tersebut apabila dikelola dengan tepat, maka akan dapat mendukung proses pembelajaran secara maksimal. Dengan demikian, semua potensi yang dimiliki warga sekolah, akan dapat berkembang secara maksimal dan sekolah dapat menjadi tempat belajar yang nyaman dan berkualitas.

Terdapat dua strategi atau pendekatan yang digunakan dalam mengelola sumberdaya, yaitu:

a.       Defisit Based Thinking (Berpikir Berbasis Masalah)

b.      Asset Based Thinking (Berpikir Berbasis Aset)

Defisit Based Thinking lebih memfokuskan pada masalah utama/isu, mengidentifikasi kebutuhan/kekurangan, fokus mencari bantuan/sponsor dan selalu menanyakan apa saja yang kurang di sekolah. Sementara Asset Based Learning lebih fokus pada kekuatan/aset yang dimiliki, membayangkan masa depan, berpikir tentang kesuksesan, kekuatan untuk meraih kesuksesan dan merancang aksi sesuai visi dan kekuatan. Dengan demikian, pendekatan Berpikir Berbasis Aset (Aset Based Thinking) dianggap lebih tepat untuk digunakan dan lebih memberikan aura/sisi positif  sekolah dan menggunakannya untuk memaksimalkan aset agar lebih berdaya guna.

 

PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Apa yang dimaksud Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumberdaya?

Pemimpin Pembelajaran yaitu seseorang yang mampu memetakan semua sumberdaya yang ada di sekitarnya untuk menunjang proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna (berkualitas).

Materi ini sangat berkaitan erat dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa kita, para guru hendaknya dapat menuntun segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Agar dapat menuntun kodrat anak tersebut, guru harus cerdas dalam mengelola dan menggali kemampuan muridnya, menyesuaikan dengan kodratnya agar dapat nyaman dan bahagia dalam proses belajarnya.

Materi ini juga terkait dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak. Guru Penggerak diharapkan memiliki nilai berpihak pada anak, mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif. Nilai guru penggerak tersebut menjadi nilai positif yang digunakan untuk mengelola Sumberdaya agar tepat guna dan tepat sasaran. Guru Penggerak diharapkan mampu menjadi pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Terkait dengan Pembelajaran yang berdampak pada murid, yaitu Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial dan Emosional, maka materi pemimpin dalam pengelolaan sumberdaya ini juga sangat relevan. Pengelolaan sumberdaya diharapkan bisa menyesuaikan dengan bakat dan minat murid sehingga diperoleh pembelajaran yang berkualitas. Kompetensi Sosial dan emosional juga sangat diperlukan agar dapat membantu menanggulangi stress yang mungkin terjadi pada anak.

Pengelolaan sumberdaya ini menjadi bagian  penting dalam upaya melakukan Coaching. Coaching diperlukan sebagai upaya menemukan solusi dari masalah yang dihadapi anak terkait dengan pemanfaatan sumberdaya.

Pengelolaan sumberdaya juga berkaitan dengan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Agar dapat berperan sebagai pemimpin pembelajaran, maka seorang pemimpin harusnya juga dapat mengelola sumberdaya dengan tepat.

Dalam Inkuiri Apresiatif dengan langkah BAGJA, maka seorang pemimpin harus dapat memetakan sumberdaya terlebih dahulu sebelum melakukan langkah perubahan dengan manajemen BAGJA. .

 

SEBELUM dan SETELAH Mempelajari Modul ini

Mindset saya banyak mengalami perubahan. Yang tadinya selama ini pola pikir saya lebih cenderung melihat permasalahan terlebih dahulu, kini berubah lebih cenderung untuk melihat potensi yang ada. Dulu hampir tak pernah terpikir untuk memaksimalkan potensi terlebih dahulu. Kini cenderung lebih fokus pada aset dan kekuatan serta mampu mengorganisasikan kompetensi dan sumberdaya yang dimiliki sekolah.

HARAPAN

Setelah mempelajari modul ini, dengan perubahan mindset, maka saya berusaha agar dapat menjadi guru yang lebih mampu menuntun siswa, lebih mampu mengelola emosi, dan berusaha memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam. Serta memiliki skil Coaching, mampu melakukan pemetaan aset dan kekuatan baik yang dimiliki oleh diri sendiri maupun oleh sekolah untuk dapat menciptakan ekosistem belajar yang wellbeing. Dengan demikian akan terwujud pembelajaran yang berdampak pada murid dengan merdeka belajar dan terciptanya Profil Pelajar Pancasila.


Berikut ini Prakarsa Perubahan kecil di kelas yang akan saya lakukan 


 

PRAKARSA PERUBAHAN

Siswa dapat menunjukkan hasil belajar mereka dengan menciptakan berbagai macam bentuk karya  

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

B-uat pertanyaan (Define)

        Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;

        Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

 

 

Bagaimana siswa dapat menunjukkan hasil belajar mereka dalam bentuk karya yang bervariasi?

 

 

Guru perlu mengarahkan agar siswa dapat membuat karya dari hasil belajar mereka. Bentuk karya disesuaikan dengan  potensi masing-masing siswa.

A-mbil pelajaran (Discover)

        Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;

        Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsur

 

 

Bentuk karya apa saja yang mungkin bisa dibuat siswa?

Bagaimana karya itu bisa dilihat oleh teman lainnya sehingga murid merasa tertantang untuk membuat sebaik mungkin?  

 

 

Guru mendata minat dan potensi siswa.

 

Guru memberi penugasan terkait materi yang dipelajari.

Guru mengarahkan agar siswa dapat memposting karyanya di media sosial.   

G-ali mimpi (Dream)

        Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;

        Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

 

 

Bagaimana perasaan siswa apabila karyanya bisa dilihat  oleh banyak orang?

Apakah hal ini akan membuat siswa  makin termotivasi untuk berkarya?

 

 

Guru menugaskan siswa untuk memposting karyanya di media sosial dan menandai akun gurunya.

Siswa merasa bangga apabila karyanya bisa dilihat  oleh banyak orang dan makin termotivasi untuk berkarya

J-abarkan rencana (Design)

       Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;

         Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

 

 

Apakah guru dapat memberikan tugas yang mengarah pada  diferensiasi produk?

 

 

 

 

 

 

Apakah guru dapat meminta siswa memilih satu topik yang dikuasai untuk dibuat sebuah karya?

 

Dapatkah Bentuk karya  disesuaikan  dengan minat dan kompetensi siswa?

 

 

Guru melakukan pemetaan kebutuhan siswa.

Guru memfasilitasi kebutuhan siswa yang beraneka ragam dengan memberikan konten materi yang bervariasi.

Guru Melakukan pembelajaran berdiferensiasi dan memberikan tugas yang mengarah pada  diferensiasi produk.

Guru mengarahkan siswa untuk memilih satu topik yang lebih diminati siswa untuk dieksplor.

Siswa membuat karya dari topik yang dipilih.

Kesuksesan Pencapaian: Diharapkan akan muncul karya yang bervariasi dari hasil belajar siswa

A-tur eksekusi (Deliver)

        Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

        Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

 

 

Apakah Guru BK bisa diminta bantuan oleh guru matpel untuk mengetahui kebutuhan dan minat siswa?

Guru matpel, berperan melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi

Siswa, sebagai pusat pembelaaran.   

 

 

Guru BK dapat dilibatkan untuk membantu guru memetakan kebutuhan dan minat siswa.

 

 

Guru matpel memimpin proses pembelajaran berdiferensiasi

Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.


Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 


“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun

mengajarkan mereka apa yang

berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob Talbert


    Guru di sekolah tidak hanya berperan mengajarkan sebuah materi kepada murid, namun yang lebih penting dari itu adalah bagaimana materi yang diajarkan tersebut bermakna bagi kehidupan murid. Mengajarkan kepada anak  bagaimana menghitung tentu itu hal yang baik, namun akan lebih bermakna dan berharga apabila anak mengetahui manfaat dari kemampuan menghitung itu bagi kehidupannya kelak. 


    Hal inilah yang perlu dipahami oleh semua pendidik di sekolah. Tak hanya berpatokan pada sisi akademik atau nilai semata, namun lebih penting dari itu adalah penerapan materi yang dipelajari di kelas dengan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata.


    Terkait dengan hal itu, maka dalam Pendidikan Guru Penggerak, dipelajari tentang bagaimana guru dapat mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus dapat mengambil keputusan yang tepat agar penerapan ilmu yang dipelajari anak nantinya dapat benar-benar bermakna bagi kehidupannya kelak. 


    Seringkali kita menemui beragam permasalahan di sekolah, baik itu permasalahan yang terkait dengan murid, sarana prasarana ataupun hubungan antar warga di sekolah. Nah ketika menghadapi hal ini, guru dituntut untuk dapat mengambil keputusan yang tepat agar pembelajaran tetap dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Tak jarang, permasalahan tersebut mengandung bujukan moral ataupun dilema etika. Kemampuan guru mengambil keputusan benar-benar akan teruji di sini. Perlu adanya langkah-langkah pengambilan keputusan  yang dilakukan oleh guru agar keputusan yang diambil nantinya dapat diterima oleh semua pihak, terutama pihak yang terlibat dalam permasalahan.


    Ketika menemui sebuah permasalahan di lingkungan sekolah, maka guru perlu melakukan langkah-langkah pengambilan keputusan agar dapat menghasilkan keputusan yang bijak dan diterima oleh semua pihak. Tentunya, langkah-langkah pengambilan keputusan ini juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut oleh guru, yaitu terkait nilai moral, agama dan budaya. Misalnya dalam menghadapi kasus/masalah yang terkait dengan bujukan moral atau dilema etika, guru tentu akan berpatokan pada nilai-nilai yang diyakininya.

    

     Kasus/masalah bujukan moral terjadi apabila berkaitan dengan tindakan benar dan salah secara hukum. Sementara kasus/masalah dilema etika berkaitan dengan dua pilihan yang keduanya secara moral adalah hal yang benar, namun harus dipilih salah satu yang paling tepat. Ketika memilih sebuah pilihan dalam pengambilan keputusan, hendaknya mempertimbangkan bahwa keputusan yang diambil oleh guru ini tetap memprioritaskan kepada kepentingan murid. Selain itu keputusan yang diambil oleh guru haruslah berdampak pada lingkungan belajar yang kondusif dan nyaman serta aman bagi murid. Pratap triloka pada filosofi pendidikan Ki hajar Dewantara yaitu ‘Ing Ngarso Sung Tulodho, ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani’ harus benar-benar tertanam dalam jiwa guru. Semua ini dalam upaya agar kita dapat menuntun segala kodrat yang dimiliki anak sehingga anak dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.






Senin, 29 Juli 2019

Menulis Itu Mudah


Menulis Itu Mudah
Oleh Fithriyah, M.Pd.

             Bagi seorang guru, menulis sudah menjadi sebuah keharusan di masa kini. Dalam peraturan Permenegpan RB Nomor 16 tahun 2009  dijelaskan bahwa untuk kenaikan pangkat guru mulai pangkat IIIB ke atas, disyaratkan untuk memiliki publikasi ilmiah. Syarat kenaikan pangkat ini seringkali dianggap sebagai sebuah momok bagi guru, terutama yang sama sekali tidak pernah menuliskan gagasannya ke dalam tulisan.
          Akibatnya, banyak ditemui karya tulis yang diajukan dalam kenaikan pangkat itu bukan benar-benar karya guru, akan tetapi merupakan karya hasil copas dari karya orang lain (plagiat). Lebih daripada itu, banyak juga kasus karya tulis ilmiah sengaja “dibuatkan” oleh  orang lain dengan membayar sejumlah uang. Tentu, fakta ini menjadi keprihatinan kita semua. Betapa pun juga, guru adalah sosok orang terdidik yang semestinya bisa membuat karya tulis sendiri.
            Sebagian guru bahkan merasa ‘tidak bisa menulis’ sebelum benar-benar berusaha mencoba menulis. Jadi, hal itu sebenarnya lebih kepada masalah ‘mental blok tidak bisa menulis’ yang dimiliki oleh sebagian guru. Mental block inilah yang harus diubah terlebih dahulu. Percayalah bahwa kita bisa menulis asal mau berusaha. Seringkali juga guru merasa tidak punya ide untuk ditulis atau tidak tahu bagaimana memulai untuk menulis. Yang seperti ini hanya masalah kebiasaan semata, bisa dilatih agar lancar menulis.
           Tulisan saya berikut ini akan mengupas bahwa sejatinya menulis bukan sesuatu yang harus ditakuti, apalagi dibenci. Justru harusnya, seorang guru yang setiap hari mengajar dan mendidik, memiliki banyak ide yang bisa dituangkannya menjadi sebuah karya tulis.  Tentu saja, kemampuan itu tidak serta merta dimiliki guru. Ada langkah-langkah yang harus dilakukannya agar seorang guru memiliki keterampilan menuliskan gagasannya.

Pentingnya Motivasi Untuk Menulis
Sebelum membahas tentang bagaimana teknis menemukan ide, merumuskan judul hingga menjadi sebuah karya, ada hal penting terkait mental menulis yang perlu dipahami. Ini sangat memengaruhi semangat seseorang dalam menulis. Yaitu tentang pentingnya seseorang menemukan sebuah alasan untuk menulis. Alasan untuk menulis ini bisa jadi berbeda-beda pada masing-masing orang. Ketika sebuah alasan untuk menulis sudah ditemukan, maka hal itu akan membuat seseorang itu akan termotivasi untuk menulis dan terus menulis. Carilah alasan yang paling kuat untuk menulis agar semangat menulis terus ada dan terpelihara. Ini saya sampaikan di awal pembahasan tentang motivasi menulis.


                           Ilustrasi Materi Menulis Itu Mudah

Saya sendiri awalnya menulis hanya karena hobby. Namun seiring waktu, kini saya tahu bahwa menulis karena menyalurkan hobby bukanlah alasan yang kuat untuk menjadikan diri seorang penulis yang produktif. Masalahnya, hobby biasanya dilakukan saat kita merasa senang melakukannya dan ini sangatlah tergantung dari ‘mood’. Jika ‘mood menulis’ sedang baik maka akan menulis, namun jika sedang tak ada mood menulis (bad mood) maka tak kan bisa menulis. Lebih daripada itu, menulis karena menyalurkan hobby biasanya tidak memiliki target apapun. Asalkan sudah menulis ya sudah selesai.
Tentu saya tak ingin seperti itu. Saya ingin menjadi penulis yang produktif menghasilkan karya. Sebisa mungkin menulis sesuatu yang bisa diambil manfaatnya oleh orang lain. Ini berarti tidak boleh asal-asalan dalam menulis. Tulisannya tentu harus berupa tulisan yang bermakna. Bermakna di sini bisa berarti mengandung sebuah ilmu atau gagasan yang bermanfaat untuk orang lain. Tentu bukan berarti kita merasa lebih segalanya dari orang lain, namun berbagi sedikit yang kita punya, tentu akan lebih baik daripada kita tak mau membagikan apa yang kita punya.
Menulis juga sebuah upaya untuk berdakwah, menyampaikan ilmu yang kita ketahui dan pahami kepada orang lain. Dalam agama Islam, kita diwajibkan menyampaikan kepada orang lain walau hanya satu ayat. Kita berusaha mengajak orang lain untuk bersama-sama berupaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Selain itu, menulis juga sebagai salah satu upaya untuk menasehati diri sendiri. Ketika kita menuliskan sesuatu (berupa sebuah ilmu/nasehat), maka hal itu membuat kita memiliki beban moral untuk bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena setiap apa yang kita tuliskan tentu harus dapat kita pertanggungjawabkan. Jadi jika kita menuliskan sebuah kebaikan, kita juga harus berupaya melakukannya. Ini menjadikan diri kita senantiasa berproses untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Menulis diartikan juga  bekerja untuk keabadian. Jika kita meninggalkan dunia ini, maka salah satu yang bisa dikenal orang adalah melalui tulisan-tulisan yang kita buat. Walau kita sudah tiada, tulisan kita masih bisa dibaca orang lain dan itu akan membuat kita tetap dikenal dan dikenang. Seperti yang pernah disampaikan oleh penulis ternama Pramoedya Ananta Tour “Orang boleh pandai setinggi langit, namun selama ia tak menulis, maka ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Apa yang kita Tulis?
            Yang paling mudah adalah menuliskan segala sesuatu yang dekat dengan diri kita sendiri. Mulailah menulis tentang aktivitas kita sehari-hari, tentang apa yang kita rasakan dan tentang apa yang kita alami. Sebagai seorang guru yang setiap saat berinteraksi dengan murid, tentu ada banyak kejadian, sesuatu yang unik, yang kita temui. Apabila hal itu kita tulis, bisa jadi akan menjadi inspirasi buat orang lain.
            Pengembangan materi yang kita ajarkan di kelas, juga sangat mungkin bisa ditulis dan bisa diambil inspirasinya oleh orang lain. Ketika akan menuliskan hal ini, memang membuat kita akan lebih peka terhadap kejadian yang kita alami.

Agar Motivasi Menulis tetap Terjaga
            Agar semangat menulis tetap kita miliki, maka  kita perlu berkumpul dengan orang-orang yang memiliki misi atau tujuan yang sama. Salah satu caranya adalah berkumpul di berbagai group-group kepenulisan yang banyak terdapat di Facebook, WA, telegram dan lain sebagainya. Semua itu untuk menjaga agar semangat menulis tetap kita miliki. Akan lebih baik juga apabila kita memiliki mentor. Mentor inilah yang akan memberi arahan ketika ada sesuatu yang harus diperbaiki dari tulisan kita. 


Bekali diri dengan Ilmu Kepenulisan
            Agar kita bisa lancar dalam menulis, maka kita perlu membekali diri dengan ilmu kepenulisan. Kita perlu belajar tentang bagaimana membuat judul yang baik, bagaimana menyusun kalimat yang efektif, mempelajari tanda baca yang benar dan seterusnya. Aturan dalam PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) harus dijadikan pedoman bagi semua penulis. Untuk memperbanyak kosakata, kita perlu sering membaca kamus. Milikilah KBBI online yang bisa dengan mudah diinstal di handphone kita.
           
Publikasikan Tulisan Kita
            Setelah kita menulis, maka hal berikutnya yang perlu kita lakukan adalah mempublikasikan tulisan kita agar dibaca oleh orang lain. Saat ini, tidaklah sulit untuk mempublikasikan tulisan kita. Untuk langkah awal, kita bisa mulai memposting tulisan itu di media sosial semacam facebook, blog atau yang lainnya. Dengan demikian, kita bisa mendapat apresiasi dari pembaca dalam bentuk komentar, kritik, saran dan seterusnya.
            Dari berbagai komentar dan kritik ataupun saran dari pembaca itulah kita bisa memperbaiki tulisan kita. Apabila hal ini kita lakukan secara kontinu, maka tulisan kita akan semakin meningkat kualitasnya.  Lebih baik lagi apabila kita memiliki kenalan seorang yang mumpuni dalam hal editing karya (seorang editor). Kita bisa meminta bantuannya untuk memeriksa tulisan kita. Biasanya seorang editor memiliki ketelitian yang lebih tinggi ketika memeriksa karya seseorang.
            Demikian yang dapat saya tuliskan tentang “Menulis Itu Mudah”. Selamat berlatih menulis.

Note:
Tulisan ini sejatinya adalah rangkuman dari tugas pertama saya dalam pelatihan Virtual Coordinator Batch 3 VC Indonesia Jatim 6.  Disampaikan menggunakan webex.com yang difasilitasi oleh SEAMEO SEAMOLEC. 
Rekaman dari tugas pertama ini bisa dilihat di youtube, pada link berikut 
https://youtu.be/o-IaxKibJ3k


Pembuatan Mading Prasapa (PMR Wira SMAPA) sebagai Sarana untuk Mengkomunikasikan Kegiatan Ekstrakurikuler PMR Wira SMAPA kepada Warga Sekolah

“Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-ting...